SERI LITERASI MEDIA: AWAN GELAP TERORISME SIBER

Book Cover: SERI LITERASI MEDIA: AWAN GELAP TERORISME SIBER

SINOPSIS BUKU SERI LITERASI MEDIA: AWAN GELAP TERORISME SIBER

Penulis                 : Sri Herwindya Baskara Wijaya

Editor                   : Dr. phil. Eka Nada Shofa Alkhajar

Drs. Widyantoro, MSi.

Jumlah hal           : xxx + 388

ISBN                     : 978-623-6509-50-0

Cetakan I             : Oktober 2020

Penerbit               : KBM Indonesia, Yogyakarta

www.karyabaktimakmur.co.id, www.penerbitmurah.com

Terorisme, seperti yang ditulis Jason Franks dalam Rethinking the Root Of Terrorism (2006) telah menjadi salah satu persoalan dan tantangan global terbesar di abad ke-21. Meski sejarahnya telah berurat akar lama sejak periode klasik, namun terorisme mendapatkan momentum, histeria, dan euforia globalnya sejak penyerangan atas World Trade Center (WTC) dan Pentagon pada 11/9/2001 di Amerika Serikat (AS). Karena kejahatan dan dampaknya yang luar biasa, maka terorisme dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary measure).

Saat internet dan media sosial hadir menghiasi dunia modern dewasa ini, para teroris juga mengerlingnya. Kelebihan pada hal kecepatan, kemasifan penetrasi, kemudahan penggunaan hingga keterjangkauan nilai finansial menjadikan internet dan media sosial menjadi lahan favorit baru bagi para teroris untuk bergumul di dalamnya. Dengan kompetensi expert dalam bidang information and technology (IT), para teroris bisa mendesain konten sedemikian rupa ruang-ruang virtual menjadi sangat persuasif hingga mampu mempesona banyak pihak terutama generasi milenial.

Bukan hanya menjadi follower di dunia maya, namun internet dan media sosial bahkan mampu mengubahnya menjadi barikade hara kiri yang siap mati dalam memperjuangkan ideologi diri/kelompoknya di dunia nyata. Internet dan media sosial pula mampu menjadikan para teroris menjadi sosok-sosok ‘Serigala Tunggal’ (lone wolf) yang siap mencabik-cabik targetnya dengan taring terornya secara mandiri dan independen. Cukup dengan intensitas penetrasi ototidak ditambah dengan injeksi ideologi yang ‘menggigit’ menjadikan seorang netizen yang awalnya polos menjadi sosok yang beringas bertabur maut.

Bagi para teroris, teknologi modern canggih bernama internet dan media sosial ini telah dijadikan semacam showroom untuk men-display-kan beragam informasi ‘menjadi teroris yang profesional’, mulai dari doktrin ideologi, propaganda, rekrutmen, sabotase, pendanaan, produksi bom hingga serangan dan perang hibrida (hybrid war and attact). Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah contoh sukses kelompok teroris global dalam memanfaatkan internet dan media sosial untuk menghipnotis sekaligus meneror dunia. Buku ini mencoba memotret soal praksis terorisme, terutama terorisme siber sebagai sosok ‘Grim Reaper’ yang mencemaskan dunia dengan sabit panjang terorisme-nya. Selamat membaca.

All Rights Reserved Theme by 404 THEME.